Suryamedia.id – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda beberapa waktu lalu menyebabkan hujan abu vulkanik. Debu tersebut bahkan terbang terbawa angin hingga menyebar ke sejumlah daerah di lima provinsi.
Penyebaran abu vulkanik perlu diwaspadai karena berbahaya bagi kesehatan, terutama organ pernapasan. Partikel debu vulkanik berdiameter kurang dari 2 milimeter (mm), terdiri atas pecahan batuan dan mineral yang bentuknya seperti bubuk halus.
Tak hanya itu, material ini juga membawa senyawa silika, senyawa kimia yang tersusun dari unsur silikon dan oksigen. Inilah yang menyebabkan abu vulkanik berdampak buruk bila terhirup dan masuk dalam tubuh.
“Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit,” kata Dicky, Minggu (6/9/2026), dikutip Detik.
Abu vulkanik bisa meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Beberapa gejala akut atau jangka pendek yang umumnya muncul, seperti pilek, hidung berair, batuk kering, sesak napas, hingga mengi.
Partikel tajam abu vulkanik juga bersifat abrasif yang bisa menyebabkan konjungtivitis. Konjungtivitis terjadi saat lapisan transparan pada mata (konjungtiva) mengalami peradangan, sehingga menimbulkan gangguan penglihatan.
Abu vulkanik yang membawa sulfur dioksida (SO₂) memiliki sifat asam. Jika kulit terpapar debu ini, konsentrasi dan derajat keasaman (pH) bisa menyebabkan kulit iritasi, seperti gatal, bengkak, kemerahan, dan munculnya bercak ruam yang panas atau perih.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap dampak abu vulkanik ini. Yakni, dengan menghindari aktivitas di luar ruangan, menggunakan kacamata dan masker jika terpaksa keluar.
“Bersihkan dengan air dan bila perlu gunakan obat tetes mata. Semua puskesmas sudah kita siapkan untuk menangani kondisi tersebut,” tutur Budi, Minggu (6/9/2026).
Hingga saat, ini Kementerian Kesehatan telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) di tingkat pusat hingga kabupaten/kota terdampak. Selain itu, distribusi logistik, mencakup masker medis dan N95, tabung oksigen beserta konsentrator, alat uap pernapasan (nebulizer), dan berbagai obat untuk penanganan ISPA, serta obat tetes dan salep untuk mata dan kulit. (*)






