Kemensos Sebut Alasan Tingkat Desil Tak Sesuai dengan Kondisi Riil Masyarakat

Suryamedia.id – Kementerian Sosial (Kemensos) menyampaikan penyebab kasus tingkat desil tidak sesuai dengan kondisi riil masyarakat. Salah satu faktornya disebut adanya perubahan jutaan data di Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Volume 3.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan, ada sekitar 12 juta data baru yang masuk dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Meski demikian, data tersebut telah dikoreksi melalui DTSEN Volume 3.1 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS).

“Baru masuk 12 juta data baru dari BKKBN yang belum dilakukan verifikasi dan validasi, sehingga loncat-loncat. Nah sekarang sudah distabilkan, dirapikan, diverifikasi dan validasi,” terang Gus Ipul baru-baru ini, dikutip Detik.

Pemutakhiran data dilakukan secara langsung oleh Kemensos bersama pemerintah daerah. Proses penyesuaian ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi data. Menurut perkirakan, proses ini akan selesai dalam satu hingga dua minggu ke depan.

“Insyallah dalam waktu 1-2 minggu ke depan, data ini akan makin akurat,” lanjut dia.

Baca Juga :   Program Sekolah Rakyat Dimulai Hari Ini, 63 Sekolah Rakyat Dibuka

Menurutnya, perubahan desil tidak langsung menghapuskan status sebagai penerima bantuan sosial (bansos). Pasalnya, penetapan jumlah penerima manfaat bantuan sosial (bansos) maupun penyalurannya belum dilakukan.

“Tidak serta-merta orang yang sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret (bansosnya). Karena masih menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran,” terang Gus Ipul.

“Misalnya, sekarang ini kan ada lonjakan-lonjakan data, itu tidak otomatis (bansos) hilang, karena kan kita belum menyalurkan. Sementara untuk PBI itu setiap bulan sekali,” lanjut dia.

Sementara itu, sifat desil di DTSEN relatif, dengan demikian posisi desil seseorang dapat berubah meskipun kondisi ekonominya tidak mengalami perubahan. Perubahan dapat terjadi karena kondisi keluarga lain dalam pemeringkatan juga berubah.

“Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan secara ekuivalen dengan penghasilan. Desil 1 penghasilannya sekian atau desil 10 penghasilannya sekian, itu tidak bisa,” jelas Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Andy Kurniawan.

Desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan penduduk secara nasional, mulai dari 1 dengan tingkat kesejahteraan terendah hingga 10 merupakan desil tertinggi. DTSEN dimutakhirkan setiap tiga bulan sehingga dalam satu tahun terdapat empat versi data.

Baca Juga :   Ditarik ke Polemik Bandara IMIP, Jokowi Mengaku Tak Pernah Resmikan

“12 juta data baru ini adalah sumber pemutakhiran di volume ketiga. Sumber pemutakhiran di volume ketiga ini menyebabkan naik turunnya desil terasa sangat signifikan. Ini langsung dievaluasi oleh BPS dan memang gejala di masyarakat kasuistis langsung kita tindaklanjuti,” kata Andy. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *