Suryamedi.com – Presiden RI Prabowo Subianto sebut ada kebocoran kekayaan negara ke luar negeri. Hal ini berdampak pada penerimaan negara menjadi kurang maksimal.
Ia menjelaskan, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), selama 22 tahun terakhir, keuntungan Indonesia diperkirakan mencapai US$436 miliar. Namun, dana bacor keluar diperkirakan mencapai US$343 miliar.
“Berarti selama 22 tahun kekayaan kita yang tinggal di Indonesia 436 miliar (dolar AS) dikurangi 343 miliar (dolar AS). Ini yang sebabnya gaji-gaji guru kecil, gaji-gaji aparat penegak hukum kecil, gaji-gaji ASN kecil,” kata Prabowo pada Rapat Paripurna Ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks parlemen DPR/MPR RI, Rabu (20/5/2026), dikutip Antara.
“Ini yang selalu anggaran tidak cukup, anggaran tidak kuat dan sebagainya,” lanjut dia.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti under invoicing atau pelaporan nilai ekspor di bawah nilai sebenarnya. Menurutnya, praktik itu dilakukan untuk menjual komoditas dalam negeri ke perusahaan luar negeri dengan harga jauh lebih rendah.
“Banyak di antara mereka membuat perusahaan di luar negeri. Dia jual dari perusahaan dia di dalam negeri ke perusahaan dia di luar negeri yang harganya jauh di bawah harga yang sebenarnya. Ini yang terjadi,” ucap Prabowo.
Pihaknya juga menyinggung praktik under counting, transfer pricing, serta penyelundupan melalui pelabuhan. Praktik-praktik itu disebut menyebabkan perbedaan nilai transaksi yang sebenarnya hingga 50 persen.
“Kita sudah hitung, kita sudah pakai random, kita tahu bahwa perbedaan antara yang dilaporkan dan yang tidak dilaporkan itu sering mencapai 50 persen. Yang dilaporkan adalah 50 persen dari keadaan yang sebenarnya,” kata Prabowo.
Terkait hal tersebut, Prabowo menginstruksikan perbaikan di sektor bea dan cukai. Ia mengambil contoh kasus saat masa Orde Baru dimana permasalahan bea cukai mendorong pemerintah menggunakan jasa swasta untuk meningkatkan pendapatan negara.
“Bea cukai harus kita perbaiki. Saya masih ingat di zaman Orde Baru, saking parahnya bea cukai, kita tutup bea cukai. Kita outsourcing ke swasta dan penghasilan negara naik,” kata dia. (*)












