Suryamedia.id – Salah satu program Presiden RI Prabowo Subianto selama masa jabatannya adalah menyediakan obat-obatan murah, agar bisa dijangkau oleh masyarakat ekonomi bawah. Salah satu upayanya dengan memproduksi obat yang kemudian didistribusikan lewat Koperasi Merah Putih.
Laboratorium farmasi untuk memproduksi obat tersebut berada di bawah tiga matra TNI yang akan dikonsolidasikan menjadi satu farmasi pertahanan negara. Meski demikian, produksi obat akan diawasi ketat, serta tetap mengikuti regulasi BPOM.
“Harga obat mahal, sehingga kita memberi obat-obatan atas regulasi dari Badan POM yang dipimpin oleh Pak Taruna Ikrar dengan harga yang murah dan kita pikirkan bagaimana caranya harga murah itu turun lagi menjadi obat-obatan gratis yang diperlukan oleh rakyat,” kata Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin baru-baru ini, dikutip CNN Indonesia.
Ia melanjutkan, produksi obat di laboratorium TNI sudah mulai berjalan. Nantinya, sekitar Oktober, laboratorium akan melakukan produksi massal untuk kemudian dikirimkan ke desa-desa dengan harga 50 persen lebih murah.
“Tapi langkah berikut, nanti menjelang 5 Oktober, kita akan produksi massal obat-obatan dan kita akan kirim ke desa-desa dengan harga 50 persen lebih murah dari harga pasaran,” kata Sjafrie.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, BPOM akan membuat sertifikasi bagi laboratorium TNI yang membuat obat.
“Apakah TNI punya kompetensi dan punya kemampuan untuk memproduksi. Jawaban kami jelas, sesuai dengan standar tentu TNI memenuhi syarat untuk itu, dengan suatu model, seperti manufacturing practice-nya nanti laboratorium-laboratoriumnya dan standar produsennya, kita akan sertifikasi. Sertifikasi dalam konteks yang disebut cara pembuatan obat,” kata Taruna. (*)












