Suryamedia.id – Frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo Subianto selama menjabat sebagai Presiden RI mendapatkan sorotan publik. Setidaknya sudah 53 kali lawatan ke luar negeri, di berbagai negara Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika, hingga Oseania.
Hal tersebut turut mendapat perhatian oleh eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Ia menyoroti sejumlah poin penting terkait upaya diplomasi yang dilakukan Presiden RI Prabowo lewat video yang diunggah di media sosial pribadinya.
“Bapak Presiden telah menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada saya yang berarti Bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya mengenai politik luar negeri. Karena itu, saya juga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan apa adanya,” kata Dino.
Poin pertama mengenai tingginya frekuensi Prabowo ke luar negeri selama 20 bulan menjabat sebagai Presiden RI. Ia mengatakan, setidaknya satu dari enam hari dihabiskan ke luar negeri, sehingga dianggap tidak lazim bagi publik.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri. Semenjak menjabat menjadi presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran,” terang dia.
Ia menganggap, tingginya kunjungan tersebut akan berdampak pada anggaran yang harus dikeluarkan negara dalam setiap kunjungan. Biaya tersebut mencakup tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokol, pengamanan hingga uang harian delegasi.
“Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar,” katanya.
Selanjutnya, pihaknya menyarankan untuk lebih memanfaatkan kemajuan teknologi dalam upaya menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia. Misalnya, melakukan video call, telepon, atau pertemuan virtual.
Ini dinilai lebih efektif, lantaran menurut pengalamannya, pembahasan inti dalam kunjungan bilateral umumnya hanya berlangsung satu hingga dua jam. Sedangkan, sebagian besar agenda lainnya bersifat seremonial.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya menanggapi pesan eks Wamenlu RI tersebut. Ia turut berterima kasih atas saran yang disampaikan, serta merespon dengan sejumlah poin penting.
Ia menyebutkan bahwa kelebihan biaya yang timbul atas kunjungan ke luar negeri tersebut telah ditanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, jumlah orang yang ikut dalam rombongan telah dikurangi hingga 50 persen dari periode pemerintahan sebelumnya.
“Jadi yang pertama masalah biaya bila keluar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” kata Teddy, Senin (1/6/2026).
“Kalau dulu itu, itu sekali keluar negeri bisa lebih dari dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Pak Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” lanjutnya lagi menegaskan.
Adapun kunjungan ke luar negeri lantaran kondisi dunia sedang dinamis setiap harinya karena konflik global, sehingga Presiden RI ingin membangun komunikasi aktif dengan pemimpin dunia. Menurutnya, kunjungan secara langsung bisa meningkatkan kedekatan emosional antarpemimpin.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan. dan begitu pula sebaliknya,” kata Teddy.
“Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung, diliput media ataupun tertutup,” sambungnya lagi.
Menurut Teddy, kunjungan yang dilakukan tersebut telah membuahkan hasil berupa investasi yang mencapai lebih dari Rp2 ribu Triliun. Ia juga menyinggung kekuatan pertahanan yang didukung alutsista, serta terwujudnya penyelenggaraan perkampungan haji.
“Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun, itu data dari BKPM,” katanya.
“Kemudian, contoh konkret lagi ini, bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan kKorea, kembali langsung ada investasi sekitar Rp575 triliun,” sambung dia. (*)











