AJI Kecam Pernyataan Presiden Prabowo Tentang Jurnalis Wujud “Londo Ireng”

Suryamedia.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengecam pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis atau wartawan sebagai ‘Londo Ireng’ saat berpidato. Tak hanya itu, narasi tersebut juga ditujukan ke pihak pengamat dan LSM.

“Presiden mengatakan bahwa ‘londo ireng’ masih ada hingga sekarang dan mengaitkannya dengan pihak-pihak yang menurutnya lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain daripada kepentingan Indonesia,” tulis AJI dalam keterangan resminya yang diunggah Sabtu (25/7/2026).

Menurut AJI, pernyataan tersebut dinilai merendahkan profesi jurnalis di lapangan. Tak hanya itu, label itu memiliki konotasi negatif atau seolah menuding jurnalis sebagai pengkhianat atau pembelot bangsanya sendiri.

“Kami menilai, pelabelan tersebut merendahkan, mengecilkan dan mendelegitimasi profesi dan kerja-kerja jurnalis di lapangan,” tulisnya lagi.

“Apalagi istilah tersebut memiliki konotasi yang dianggap berkhianat, membelot, atau lebih membela kepentingan asing dibandingkan bangsanya sendiri,” lanjut keterangan tersebut.

Dalam konteks sejarah Indonesia, “londo ireng” merupakan istilah peyoratif yang digunakan untuk menyebut orang Indonesia yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda atau bekerja untuk kepentingan kolonial, sehingga dipandang mengkhianati bangsanya sendiri.

Baca Juga :   Heboh Wakil Bupati Pidie Jaya Pukul Kepala SPPG, Kemendagri Bakal Lakukan Pemanggilan

“Dalam berbagai daerah, istilah ini juga digunakan secara lebih luas untuk menyebut ‘antek penjajah’, ‘kolaborator’, atau orang yang dianggap lebih membela kepentingan asing, daripada kepentingan nasional,” terangnya lagi.

Pernyataan presiden tersebut dinilai berlawanan dengan semangat dan mandat Undang-Undang sebagaimana termaktub dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers. Negara berkewajiban menciptakan lingkungan yang memungkinkan pers bekerja secara bebas, aman, profesional dan bertanggung jawab.

“Tuduhan terhadap profesi ini juga dinilai tak mendasar dan tidak tepat dilontarkan seorang presiden, karena jurnalis bekerja untuk menyampaikan fakta ke publik, bukan untuk kepentingan asing,” terang dia.

“Alih-alih memperbaiki kebijakan yang dikritik, pemerintah lebih suka menyerang jurnalis. Padahal kritik adalah hal wajar di negara demokrasi dan jurnalis memang berperan sebagai anjing penjaga dan menjadi corong publik,” lanjutnya lagi.

Sebelumnya, Prabowo mengatakan bahwa kelompok kritis merupakan wujud “londo ireng” di zaman modern. Ia memberikan label tersebut terhadap jurnalis, pakar, hingga lembaga swadaya masyarakat yang tidak bekerja untuk pemerintah.

Baca Juga :   3 Jurnalis Asal Indonesia Ditangkap Tentara Israel di Kapal Global Sumud Flotilla

“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng yang ikut Belanda perang melawan kita,” ucap Prabowo saat berpidato di puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa pada Kamis (23/7/2026), dikutip Tempo.

“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya sekarang dia pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM ,” lanjut dia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *