KM Virgo Tenggelam di Perairan Masalembo, Sering Disebut Segitiga Bermuda Nusantara

Suryamedia.id – KM Virgo Transport 8 dilaporkan terbalik dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9/2026) dini hari. Kapal tersebut diketahui mengangkut 243 orang dari Surabaya ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Terkait penyebab pasti tenggelamnya kapal masih dalam proses penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Meski demikian, menurut dugaan sementara, insiden tersebut terjadi karena gelombang air laut pasang dan cuaca buruk.

“Pada hari Minggu diperkirakan pada pukul 00.00, KM Virgo Transport 8 mengalami kedaruratan akibat cuaca buruk itu dikomunikasikan oleh PT Virgo. Kemudian dalam kurun waktu 2 jam mengalami kejadian (terbalik),” ujar Kepala Basarnas (Kabasarnas) RI Marsda TNI Mohammad Syafii, dikutip Detik.

Pihak PT Virgo Karya Shipping turut mengonfirmasi dugaan gelombang sekitar 1,5 sampai 2,5 meter di Laut Jawa saat KM Virgo berlayar. Lebih lanjut, ia memastikan, kapal telah memiliki dokumen pendukung, meliputi Surat Persetujuan Berlayar (SPB) hingga kelaiklautan kapal.

“Sesuai dengan laporan dari Basarnas juga, memang posisi gelombang itu sekitar 1,5 sampai 2,5 meter. Itu kondisi moderate sea,” kata General Manager PT Virgo Karya Shipping, Yoel Rihi.

Baca Juga :   Pemkot Surabaya Terbitkan SE Peringatan Hari Pahlawan 10 November

“Informasi docking, terakhir itu kita lakukan di bulan Februari tahun ini, 2026. Full. Pasti harus. Karena biar memenuhi standar yang ditetapkan,” lanjut dia.

Sementara itu, seorang ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut bahwa lokasi tenggelamnya kapal, yakni Perairan Masalembo, sering dikaitkan dengan Segitiga Bermuda Nusantara.

Perairan tersebut diketahui berada di antara Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Adapun disebut Segitiga Bermuda Nusantara lantaran sering menjadi titik tenggelamnya sejumlah kapal dan merupakan area yang cukup berbahaya, terutama saat cuaca buruk.

“Yang berbahaya di Masalembo bukan tinggi gelombangnya, melainkan iramanya, atau dalam bahasa ilmiahnya adalah periode gelombang,” ujar Seorang ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo S. Pranowo, Sabtu (26/09/2026), dilansir Detik.

Menurutnya, Perairan Masalembo dinilai memiliki laut yang dangkal, sehingga membuat gelombangnya pendek namun curam lantaran datang secara berulang setiap lima sampai enam detik. Gelombang yang terus menghantam lambung membuat kapal tidak stabil.

Arus pasang surutnya yang kuat, pertemuan gelombang dari sejumlah arah, awan badai yang tumbuh cepat di malam hari, hingga jaraknya yang jauh dari pelabuhan, turut menciptakan kombinasi mematikan di laut Masalembo.

Baca Juga :   Kementerian ESDM Wacanakan Badan Pengawas Distribusi LPG 3 Kg

“Selain faktor alam, kita juga harus memperhatikan perbandingan antara tinggi kapal dengan tinggi gelombang, dan panjang kapal dengan panjang gelombang,” jelasnya.

Sampai akhir September, proses pencarian terhadap korban KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa, pada pertengahan September lalu, masih berlangsung. Tim penyelam gabungan dari Basarnas, TNI AL dan potensi SAR berhasil mencapai bangkai KM Virgo di bawah laut.

Pencarian korban dilakukan dengan penyisiran di sejumlah bagian kapal KM Virgo, khususnya di bagian anjungan dan kamar-kamar. Penyisiran kapal dilakukan secara bertahap untuk mencari para korban yang diduga masih terjebak di dalam.

Adapun kendala yang dirasakan tim penyelam di antaranya keterbatasan jarak pandang dan kondisi ruang yang sempit. Hal tersebut membuat proses penyisiran dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tetap mengutamakan keselamatan penyelam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *