Suryamedia.id – Bulan suci Ramadan 1445 H diperkirakan akan terjadi di bulan Maret tahun 2024. Untuk memastikan tanggal tepatnya, biasanya dilakukan pemantauan hilal oleh Kementerian Agama di titik-titik seluruh Indonesia.
Hilal merupakan fenomena penting karena menjadi penentu awal bulan Kamariyah. Rasulullah SAW meminta umatnya berpuasa setelah melihat hilal, seperti dalam hadits berikut ini, “Mulailah berpuasa setelah melihat hilal, dan berhentilah berpuasa setelah melihat hilal. Namun jika mendung menutupi pandangan kalian untuk melihat hilal, maka sempurnakanlah bulan Syaban hingga tiga puluh hari,” (HR Bukhari).
Hilal sendiri dipelajari dengan Ilmu Falak atau astronomi. Secara keilmuan, hilal adalah bulan baru atau sabit pertama setelah konjungsi geosentris saat posisi bumi dan bulan berada di bujur. Pengamatan hilal dilakukan sesaat setelah matahari terbenam.
Apa itu hilal?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hilal berarti bulan sabit atau bulan yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah. Hilal berasal dari bahasa Arab yang berarti bulan sabit dan dari kata halla yang berarti ‘tampak’.
Sementara itu, berdasarkan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), hilal adalah bulan sabit muda pertama yang bisa dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan baru dalam Kalender Islam.
Hilal berfungsi sebagai penanda waktu bagi manusia dan tanggal waktu ibadah, sebagai mana yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 189 yang berbunyi,
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu mengenai hilal-hilal, katakana, itu merupakan tanda waktu bagi manusia dan (tanda waktu bagi) Haji.”
Bagaimana mengamati hilal?
Dilansir dari DetikHikmah, hilal diamati dengan dua metode, yakni rukyatul hilal dan hisab. Rukyatul Hilal merupakan metode pengamatan bulan ketika matahari tenggelam dengan mata telanjang atau pun menggunakan alat bantuan optik seperti teleskop. Pengamat harus menemukan bagian bulan sabit muda sekitar 12 jam setelah fase bulan baru (ijtima’). Menurut sains, cahaya hilal pasti akan terlihat dari bumi di awal bulan.
Sementara itu metode hisab merupakan perhitungan secara matematis dan astronomis dalam menentukan posisi bulan untuk menentukan awal bulan pada kalender Islam. Ilmu ini dikenal sebagai ilmu falak (astronomi) untuk menentukan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.
Posisi matahari penting untuk menentukan waktu salat. Sedangkan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya bulan baru dalam kalender Islam. (*)








