Aktivis Tiyo Ardianto Temukan 2 Alat Pelacak di Kendaraan, Sebut Bentuk Teror

Suryamedia.id – Aktivis Tiyo Ardianto mendapati dua unit alat pelacak jenis PBX Finder di bawah mobil yang dikendarainya. Menurutnya, alat tersebut dipasang oleh pihak yang masih misterius dan bertujuan untuk mengintainya sebagai upaya teror.

Hal tersebut disampaikan oleh Eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) itu lewat media sosial Instagram pribadinya beberapa waktu lalu. Menurutnya, alat pelacak itu sudah terpasang saat dirinya pergi ke Semarang saat mengikuti acara diskusi pada Sabtu (13/6/2026).

“Itu menurut saya jadi aba-aba bahwa saya memang sedang diintai,” kata Tiyo, Senin (15/6/2026), dikutip CNN Indonesia.

Saat ia berada di Balai Penjamin Mutu Provinsi Jawa Tengah untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Semarang, ia mendapati beberapa orang tak dikenal menguntit dan memotretnya secara terang-terangan.

Ia melanjutkan bertolak ke Yogyakarta pada siang hari untuk ikut dalam demonstrasi di Pertigaan Gejayan, Sleman, DIY. Pada saat perjalanan, Tiyo menyadari ada sejumlah notifikasi masuk ke ponsel miliknya, namun pihaknya tidak sempat mengecek karena sedang ikut aksi.

Baca Juga :   Terungkap Alasan Pembentukan Badan Industri Mineral dan Lantik Brian Yuliarto Jadi Kepala

Setelah pulang dari aksi demo, ponselnya kembali memunculkan notifikasi dari sebuah pelacak bernama PBX Finder. Akhirnya, ia memeriksa bagian belakang bodi mobil dan menemukan benda berbentuk kotak di sana.

“Saya temukan alat kotak yang punya magnet ditempel di bagian belakang bodinya. Itu saya ambil lalu setelah saya konsultasikan ke beberapa orang harus direndam di air, saya rendam di air semalaman,” terang Tiyo.

Namun, notifikasi serupa masih diterima, menandakan pelacak masih belum mati. Akhirnya, ia menyerahkan alat tersebut ke salah seorang rekannya di Semarang. Namun, saat ke bandara, notifikasi kembali muncul, sehingga pihaknya kembali memeriksa mobilnya lagi.

“Setelah saya pindahkan, saya menuju bandara. Loh kok notifikasi itu masih muncul lagi. Kami cari lagi dan ternyata kami temukan dalam bentuk lain yaitu lingkaran pipih ditempel menggunakan isolasi, lakban gitu hitam di bagian ban kanan belakang,” beber Tiyo.

Menurutnya, kedua alat tersebut dipasang dalam waktu yang berbeda. Alat pertama yang ia temukan masih dalam kondisi bersih, sehingga ia menduga bahwa perangkat tersebut baru dipasang saat berada di Yogyakarta.

Baca Juga :   24 Oktober Diperingati Hari Dokter Nasional, Simak Sejarahnya Berikut!

Namun, alat kedua kemungkinan sudah dipasang lebih awal. Meski demikian, awalnya ia mengaku tidak paham mengenai alat tersebut, serta bagaimana bisa muncul notifikasi di ponselnya, sehingga ia harus berkonsultasi dengan temannya.

“Tidak kotor sama sekali itu mungkin menandakan bahwa alat itu baru dipasang ketika saya di Jogja. Karena sepanjang perjalanan dari Semarang ke Jogja itu kan beberapa kali hujan, sehingga kalau dia tidak kotor, maka kemungkinan itu baru dipasang,” kata Tiyo menduga.

“Bahkan ketika tadi disampaikan menurut pengamat ini bisa diketahui sejak kapan, baru saya cek dan tambah berdebar ternyata sejak Jumat, 12 Juni,” lanjut dia.

Tiyo mengatakan bahwa pemasangan alat pelacak ini merupakan bentuk teror untuk membuat sasarannya menjadi was-was dan merasa diawasi.

“Saya kira justru itulah letak di mana terornya terjadi. Bahwa ini sengaja dipasang untuk saya ketahui supaya jadi alarm bagi diri saya bahwa ke mana pun saya pergi ada orang-orang yang tahu, ada orang-orang yang mengamati,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *