Konflik Geopolitik di Timur Tengah Berpotensi Pengaruhi Harga BBM, Pertamina Jelaskan Masih Pantau Perang

Suryamedia.id – Ekskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi ketersediaan hingga harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Hal ini bisa terjadi buntut penutupan selat Hormuz, Iran, yang merupakan jalur utama perdagangan minyak global.

Sampai saat ini, PT Pertamina (Persero) menyatakan masih memantau perkembangan perang sebelum mengambil keputusan terkait harga BBM. Pasalnya, kebijakan harga memerlukan pertimbangan, termasuk jumlah pasokan dan perkembangan situasi geopolitik.

“Untuk tarif BBM ke depan ini masih kami berproses melihat perkembangan lebih lanjut,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, Selasa (3/3/2026), dikutip CNN Indonesia.

“Semua aspek tentu akan jadi pertimbangan. Kami masih terus memonitor perkembangannya,” tegasnya.

Meski demikian, ia memastikan ketersediaan BBM mencukupi kebutuhan di dalam negeri, termasuk selama arus mudik Idulfitri 1447 H.

“Tentu kami sudah sampaikan bahwa stok untuk Ramadan dan Idulfitri aman, Insya Allah bisa berjalan dengan baik. Itu menjadi kewajiban utama kami terlebih dahulu,” jelasnya.

Baca Juga :   Suplai Minyak Berpotensi Terganggu Imbas Selat Hormuz Ditutup

“Jadi seperti kita ketahui ini kan baru terjadi (perang). Jadi stok kami yang kemarin masih bisa menutupi dan ini terus berjalan, stok kita akan terus berjalan,” lanjut Baron.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa cadangan BBM saat ini mencukupi maksimal 25 hari. Menurutnya, keterbatasan bukan pada ketersediaan pasokan, melainkan fasilitas penyimpanan.

“Kemampuan daya tampung BBM kita sejak lama hanya maksimal di 25 hari. Cadangan nasional kita minimal 20 sampai 23 hari, sekarang sudah 23 hari, jadi sebenarnya sudah di atas standar minimal,” ujar Bahlil, Rabu (4/3/2026).

Selanjutnya, Pemerintah RI berencana membangun fasilitas penyimpanan (storage) bahan bakar minyak (BBM) baru. Hal ini dilakukan guna memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus meningkatkan kapasitas agar mampu menampung BBM hingga tiga bulan ke depan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *