Suryamedia.id – Akibat polusi yang semakin memburuk, kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di wilayah Jabodetabek juga meningkat. Hal ini diungkap oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Imran Pambudi yang mengatakan bahwa kenaikan kasus penyakit tersebut sejalan dengan perubahan cuaca dan polusi.
“Kita tidak bisa bilang cuaca berpengaruh berapa persen, tetapi kita bisa melihat bahwa tren kenaikan kasus ISPA seiring dengan kenaikan kadar polusinya, kalau secara umum, kita punya tren seminggu, mulai Senin (4/9/2023) meningkat dibandingkan dengan minggu lalu,” kata Imran, dilansir dari Antara News.
Berdasarkan informasi, Jakarta Timur menjadi wilayah dengan kasus ISPA non-pneumonia terbanyak hingga mencapai 3.115 kasus pada Selasa (5/9/2023). Ia juga mengatakan bahwa penyakit tersebut rentan menyerang balita, karena mereka memiliki saluran pernapasan yang lebih pendek.
Lebih lanjut, Jakarta Barat menjadi daerah dengan ISPA non-pneumonia terbanyak, yakni sebanyak 84 kasus.
Kemenkes telah melakukan upaya di sektor kesehatan untuk mengatasi kualitas udara yang memburuk. Upaya tersebut meliputi pemantauan kualitas udara di 674 puskesmas dengan perangkat Air Quality Monitoring System (AQMS), melengkapi laboratorium rujukan dan menyiapkan mobile lab untuk identifikasi jenis dan sumber polutan.
Selain itu, berbagai upaya juga dilakukan untuk menurunkan risiko dan dampak kesehatannya dengan mengedukasi masyarakat, merekomendasikan masker KF94, KN95 dan masker kain dengan filter particulate matter (PM) 2,5, surveilans penyakit, dan kesiapan fasilitas kesehatan.
“Kami sudah memberikan surat edaran kepada puskesmas se-Jabodetabek, kita ingatkan bahwa mereka harus bersiap menerima keluhan penyakit yang terkait dengan polusi udara. Mempersiapkan itu, termasuk masalah logistik hingga pelaporannya. Untuk pelaporan sekarang sudah bisa harian,” imbuhnya lagi. (*)












