Suryamedia.id – Tanggal 8 Maret 2025 diperingati International Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional. Hari istimewa ini diperingati untuk menghargai hak dan peran wanita di seluruh dunia, serta mengingat sejarah gerakan buruh pada tahun 1908 di New York.
Sejak gerakan yang melibatkan belasan ribu orang di kota New York tersebut, Hari Perempuan Internasional dirayakan di banyak negara di seluruh dunia. Hal ini sebagai pengakuan atas prestasi para wanita tanpa memandang perbedaan, dari segi etnis, bahasa, budaya, ekonomi, atau politik.
Berikut kami rangkum sejarah peringatan Hari Perempuan Internasional yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret oleh masyarakat dunia.
Sejarah International Women’s Day
Dilansir dari laman BBC, peringatan International Women’s Day berakar dari gerakan buruh tahun 1908. Ini terjadi saat 15.000 perempuan berbaris di jalan kota New York untuk menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik, dan hak untuk memilih.
Ide untuk menjadikannya sebagai acara internasional datang dari Clara Zetkin, seorang aktivis komunis dan advokat hak-hak perempuan. Ia mengangkat topik tersebut di Konferensi Perempuan Pekerja Internasional di Kopenhagen.
Usulannya didukung dengan suara bulat oleh 100 perempuan dari 17 negara yang hadir di konferensi tersebut. Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tahun 1911 di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss.
Kemudian, PBB secara resmi menetapkan Hari Perempuan Internasional secara resmi pada tahun 1975 dengan tema pertama ‘Merayakan Masa Lalu, Merencanakan Masa Depan’.
Diperingati setiap 8 Maret
Ide awal Zetkin untuk perayaan internasional tidak terikat pada hari tertentu. Namun, tanggal 8 Mart dipilih bertepatan dengan aksi perempuan Rusia yang menuntut ‘bread and peace’ selama pemogokan masa perang pada tahun 1917.
Saat itu, puluhan ribu orang, terutama perempuan berkumpul di Nevsky Prospekt, jalan utama di pusat ibu kota Rusia, Petrograd. Mereka menuntut perubahan untuk memberikan tambahan makan anak-anak para prajurit perang, pembela kebebasan, dan perdamaian rakyat.
Empat hari setelah pemogokan, tsar dipaksa turun takhta, dan pemerintahan sementara memberikan hak pilih kepada perempuan.
Menurut kalender Julian yang saat itu digunakan di Rusia, pemogokan perempuan dimulai pada tanggal 23 Februari. Namun, dalam kalender Gregorian yang digunakan di sebagian besar belahan dunia, tanggal tersebut adalah 8 Maret. (*)







