Suryamedia.id – Meninggalnya Ratu Elizabeth II meninggalkan duka yang mendalam bagi banyak orang termasuk Hillary Clinton.
Usai mengetahui kepergian pemimpin Kerajaan Inggris tersebut, Hillary menyebut bahwa Ratu Elizabeth II merupakan wanita yang melayani dengan kehormatan dan perbedaan.
“Kami kehilangan seorang wanita yang melayani dengan kehormatan dan perbedaan seperti itu sejak dia masih kecil, sampai dua hari yang lalu ketika dia menerima perdana menteri baru,” kata Clinton kepada Variety di pemutaran perdana film “Gutsy” di New York.
Clinton mengenang bagaimana ia berinteraksi dengan Ratu Elizabeth II semasa ratu tersebut masih hidup. Ia menyebut Ratu Elizabeth II merupakan sosok yang bersemangat dan suka bertanya, hal itulah yang menurutnya akan ia rindukan.
“Dan saya mendapat hak istimewa untuk bertemu dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya. Mungkin salah satu yang menarik dari waktu saya dalam pelayanan publik adalah ketika saya menjadi menteri luar negeri,” ujarnya.
“Tinggal di Istana Buckingham dan berbicara dengannya tentang kebunnya, yang merupakan kecintaannya yang besar, dan benar-benar berjalan di sekitar taman dengan tukang kebunnya dan pergi untuk makan malam dasi putih di ruang makan besar,” kenangnya.
“Saya memiliki banyak percakapan yang sangat menyenangkan dan luar biasa. Dia suka bertanya, dia sangat bersemangat dan dia akan dirindukan.”
Sebagai informasi, Hillary Clinton dan Bill Clinton pernah bertemu dengan Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip pada November 1995 silam. Pertemuannya dengan pemimpin Inggris saat itu merupakan bagian dari tur Eropa. Kemudian di tahun 2000 keluarga Clinton kembali bertemu dengan Ratu itu.
Clinton juga pernah menyebut Ratu Elizabeth II sebagai orang yang lucu, cepat tertawa atau menyindir. Ia juga sangat cerdas dan mengetahui banyak hal.
“Dia menahan diri untuk tidak ikut campur dalam pemerintahan, tetapi dia dapat berbicara tentang hampir semua hal – termasuk materi rahasia tentang kemajuan persenjataan militer yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah Inggris,” kata Clinton kepada hadirin di South Shields Lecture saat itu. (*)








