Suryamedia.id – Heboh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok hingga hampir menyentuh Rp17 ribu atau Rp16.936 pada Rabu (21/1/2025) sore. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang ditinjau dari kondisi ekonomi global maupun domestik.
Adapun sejumlah faktor global di antaranya dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, hingga kebijakan tarif dagang oleh Amerika Serikat (AS) disertai tingginya US Treasury yield atau surat utang AS dalam 2-3 tahun terakhir.
Sementara, ada faktor penyebab dolar AS menguai yakni meningkatnya aliran modal keluar dari negara berkembang dan masuk ke AS.
“Seperti kami sampaikan pada 2026 ini terjadi net outflow (dana keluar) 1,6 miliar dolar AS, data hingga 19 Januari 2026. Itu lah faktor-faktor global,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Rabu (21/1/2026), dikutip CNN Indonesia.
Sementara itu, pelemahan nilai rupiah juga disebabkan oleh sentimen domestik, termasuk aliran modal asing yang keluar karena tingginya kebutuhan valas dari sejumlah korporasi. Selain itu, adanya sentimen dari pasar terhadap kondisi fiskal dan pencalonan deputi gubernur BI baru.
“Termasuk oleh Pertamina, PLN maupun Danantara,” jelas Gubernur BI.
Menanggapi fenomena ini, pihaknya akan melakukan intervensi dalam jumlah besar di pasar keuangan, termasuk intervensi non delivery forward di pasar dalam dan luar negeri, pasar spot, dan DNDF.
“Kami jaga stabilitas nilai tukar dan akan membawanya menguat, didukung kondisi fundamental ekonomi kita yang baik, termasuk imbal hasil menarik, inflasi rendah dan prospek ekonomi membaik,” tandas Perry. (*)








