Suryamedia.id – Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kapasitas 100 gigawatt (GW) diperkirakan rampung dua tahun. Proyek tersebut disiapkan sebagai basis infrastruktur energi hijau untuk menopang ekosistem hilirisasi industri.
“Presiden saat ini sedang meluncurkan program baru, yaitu 100 gigawatt panel surya. Dan beliau meminta saya beserta tim untuk memenuhi target tersebut dalam waktu dua tahun,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Jumat (10/7/2026), dikutip CNN Indonesia.
Ia menjelaskan, pasokan listrik ramah lingkungan itu diperlukan untuk mendukung proyek hilirisasi ekosistem baterai elektrik. Investasi tersebut disiapkan di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menopang sektor otomotif dan gudang energi masa depan.
“Bapak Presiden mendorong mulainya program 100 gigawatt berbasis solar, di mana untuk hilirisasi daripada ekosistem baterai elektrik sudah siap, bukan hanya untuk otomotif tetapi untuk battery storage system juga. Dan itu investasinya di kawasan baik itu di Kendal maupun di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata Airlangga.
Ia menjelaskan, energi hijau digunakan sebagai bahan bakar untuk perkembangan AI, serta untuk produksi baja hijau, produk pemurnian hijau, dan produk konsumen hijau. Ekosistem baterai ini bukan hanya untuk kendaraan listrik, tetapi juga akan digunakan untuk panel surya atau sistem penyimpanan energi baterai (battery storage system).
Selain PLTS, pemerintah juga mulai menyiapkan cetak biru transisi energi lewat pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). (*)






