Apa Itu Hilal yang Jadi Penanda Awal Bulan Puasa?

Suryamedia.id – Sebentar lagi, umat muslim di seluruh dunia akan menyambul bulan suci Ramadan 1446 Hijriah. Untuk menentukan awal bulan Ramadan, akan dilakukan pemantauan hilal oleh Kementerian Agama di sejumlah titik seluruh Indonesia.

Kemunculan hilal merupakan pertanda pergantian bulan menurut penanggalan kalender Islam atau Hijriah. Jika hilal terlihat, maka akan dilakukan sidang isbat oleh pemerintah RI untuk mengumumkan awal bulan Puasa bagi umat muslim Indonesia.

Lantas, apa itu hilal dan cara mengamatinya? Simak penjelasan yang kami rangkum dari berbagai sumber berikut ini!

Apa itu hilal yang jadi penanda awal bulan puasa?

Hilal merupakan bulan baru atau sabit pertama setelah konjungsi geosentris saat posisi bumi dan bulan berada di bujur. Hilal berasal dari bahasa Arab yang berarti bulan sabit dan dari kata halla yang berarti ‘tampak’.

Hilal merupakan fenomena penting karena menjadi penentu awal bulan Kamariyah. Fenomena tersebut adalah munculnya bulan sabit atau bulan pada tanggal satu bulan Kamariah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Baca Juga :   Kue Keranjang Jadi Sajian Wajib Saat Imlek, Ternyata Ini Maknanya

Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menyebut bahwa hilal adalah bulan sabit muda pertama yang bisa dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan baru dalam Kalender Islam.

Dalam Al-Quran, hilal menjadi penanda waktu ibadah. Tak hanya menentukan awal bulan Ramadan, tetapi juga bulan Syawal atau Idulfitri, sesuai dengan bunyi surat Al-Baqarah ayat 189,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu mengenai hilal-hilal, katakan, itu merupakan tanda waktu bagi manusia dan (tanda waktu bagi) Haji.”

Rasulullah SAW meminta umatnya berpuasa setelah melihat hilal, “Mulailah berpuasa setelah melihat hilal, dan berhentilah berpuasa setelah melihat hilal. Namun jika mendung menutupi pandangan kalian untuk melihat hilal, maka sempurnakan lah bulan Syaban hingga tiga puluh hari,” (HR Bukhari).

Bagaimana cara mengamati hilal?

Hilal dipelajari dengan Ilmu Falak atau astronomi. Pengamatan hilal dilakukan sesaat setelah matahari terbenam.

Dilansir dari DetikHikmah, hilal diamati dengan dua metode, yakni rukyatul hilal dan hisab. Rukyatul Hilal merupakan metode pengamatan bulan ketika matahari tenggelam dengan mata telanjang atau pun menggunakan alat bantuan optik seperti teleskop.

Baca Juga :   5 Tradisi Saat Bulan Ramadan di Berbagai Belahan Dunia

Pengamat harus menemukan bagian bulan sabit muda sekitar 12 jam setelah fase bulan baru (ijtima’). Menurut sains, cahaya hilal pasti akan terlihat dari bumi di awal bulan.

Metode hisab merupakan perhitungan secara matematis dan astronomis dalam menentukan posisi bulan untuk menentukan awal bulan pada kalender Islam. Ilmu ini dikenal sebagai ilmu falak (astronomi) untuk menentukan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.

Posisi matahari penting untuk menentukan waktu salat. Sedangkan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya bulan baru dalam kalender Islam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *