Suryamedia.id – Baru-baru ini, European Union Rapid Alert System for Food and Feed (EURASFF) dan The International Food Safety Authorities Network (INFOSAN) memberikan peringtan keamanan pangan global terkait susu formula bayi produksi Nestlé Suisse SA.
Produk yang didistribusikan oleh pabrik di Swiss tersebut diduga mengandung cemaran toksin cereulide pada bahan baku arachidonic acid (ARA) yang digunakan dalam proses produksi.
Toksin cereulide merupakan toksin yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus. Toksin ini bersifat tahan panas, sehingga tidak dapat dimusnahkan melalui penyeduhan air mendidih.
Sebelumnya, ada sejumlah produk yang dimaksud berhasil diimpor ke Indonesia, meski pengujian menunjukkan zat tidak terdeteksi. Sebagai respon, BPOM RI meminta PT Nestle Indonesia untuk menyetop sementara importasi produk serupa oleh PT Nestle Indonesia.
“Berdasarkan penelusuran data importasi BPOM, dua bets produk formula bayi terdampak tersebut telah diimpor ke Indonesia. Namun, hasil pengujian terhadap sampel dari kedua bets menunjukkan bahwa toksin cereulide tidak terdeteksi,” ujar Kepala BPOM Taruna Ikrar, Rabu (14/1/2026), dikutip CNN Indonesia.
Adapun produk yang terdampak adalah S-26 Promil Gold pHPro 1 yang merupakan susu formula bayi usia 0-6 bulan dengan Nomor izin edar: ML 562209063696 dan nomor bets: 51530017C2 dan 51540017A1.
Sementara, PT Nestlé Indonesia telah menarik seluruh produk formula bayi sesuai nomor bets secara sukarela, di bawah pengawasan BPOM. Sedangkan, BPOM mengimbau masyarakat yang memiliki produk bersangkutan untuk segera menghentikan penggunaan produk dan mengembalikannya.
Namun, pihaknya meminta masyarakat tidak khawatir jika terlanjur menggunakan produk Nestlé lainnya. Ia memastikan akan terus melakukan pengawasan pre-market dan post-market, serta berkoordinasi secara intensif dengan otoritas pengawas obat dan makanan lainnya. (*)












