Banyak Disebut di Media Sosial, Berikut Arti Istilah ‘Tone Deaf’

Suryamedia.id – Seiring mencuatnya polemik revisi UU Pilkada oleh DPR RI, netizen Indonesia ramai-ramai menentang keputusan tersebut di media sosial. Sementara itu, di tengah ramainya bahasan ini, muncul istilah ‘tone deaf’.

Istilah tersebut sering kali ditujukan pada orang-orang yang memilih bungkam atau tidak bersuara terkait kondisi genting yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Sebagai informasi, banyak masyarakat Indonesia menentang keputusan DPR RI tersebut lantaran RUU Pilkada tersebut dinilai menganulir putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan berpotensi menciderai demokrasi.

Lantas, sebenarnya, apa makna ‘tone deaf’ tersebut? Simak selengkapnya berikut!

Apa itu istilah ‘tone deaf’?

Istilah ‘tone deaf’ banyak digunakan di media sosial saat kisruh revisi UU Pilkada DPR RI. Istilah ini berasal dari bahasa Inggris yang bermakna tidak memahami bagaimana perasaan orang tentang sesuatu, atau apa yang dibutuhkan dalam situasi tertentu, dikutip dari Cambridge Dictionary.

Sementara itu, dikutip dari Merriam Webster, tone deaf menunjukkan ketidakpekaan atau kurangnya persepsi, terutama dalam hal sentimen, opini, atau selera publik.

Baca Juga :   Apple Akan Perbarui Kemampuan Siri

Istilah ini juga bisa didefinisikan sebagai perilaku seseorang yang mengabaikan perasaan orang lain, serta menutup diri dari situasi yang berdampak pada orang lain di sekitar. Atau, dalam garis besar dikatakan sebagai kurangnya empati.

Dilansir dari Detik, psikolog klinis Ella Titis Wahyuniansari menilai bahwa perilaku tone deaf ini bisa menghambat interaksi sosial seseorang dengan lingkungan. Selain itu, perilaku ini juga dapat menimbulkan masalah psikis bagi orang tersebut.

“Ketika saya tidak peduli dengan lingkungan, saya mengacau dan apa sebagainya. Kemudian itu membuat saya terhambat dalam lingkungan, maka itu akan menjadi permasalahan psikis. Perilaku saya tidak bisa diterima masyarakat,” terangnya.

Lebih lanjut, Ella mengatakan bahwa perilaku ini bisa diperbaiki secara perlahan. Salah satunya, yakni dengan mulai membuka diri terhadap lingkungan sekitar, serta menumbuhkan kepekaan diri dan empati kepada orang lain. Misalnya, dengan menempatkan diri ke posisi orang lain.

“Kita harus bisa mulai membuka telinga, membuka mata, melatih diri kita bahwa orang lain itu juga punya perasaan. Kita mulai membentuk empati,” jelas Ella.

Baca Juga :   Smartphone Rilis di Tahun 2024, Mulai Vivo hingga Samsung

“Kalau misalnya saya ada di posisi dia, mau nggak sih saya diperlakukan seperti ini, sehingga kita akan bisa berpikir sebelum kita melakukan tindakan,” lanjutnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *