Suryamedia.id – Presiden RI Prabowo Subianto sebut ada oknum-oknum tertentu yang menjadi aktor di balik beberapa aksi demo. Ia mengklaim, pihak-pihak tersebut tidak sudah dirinya yang mengetahui orang-orang korup.
“Sopan-sopan tetap maling, sopan-sopan korupsi. Sok, sok kaya, sok banyak duit. Kalau duitnya nyolong dari rakyat. Saya sudah lama jadi orang Indonesia, gua kenal itu semua itu, Saudara-saudara. Mereka nggak suka sama Prabowo karena Prabowo ngerti,” kata Prabowo, Rabu (24/6/2026), dikutip Detik.
Pihaknya turut memperingatkan oknum-oknum yang turut terlibat dan membayar massa untuk menggerakkan aksi demo. Ia mengatakan, beberapa orang yang ditemui di lokasi demo mengaku tidak mengerti tujuan aksi tersebut dan mengaku dibayar ratusan ribu rupiah.
“Saudara-saudara sekalian. Hati-hati, lho. Saya kasih peringatan mereka-mereka itu. Saya tahu siapa yang bayar-bayar demo, gua tahu itu. Tapi nggak apa-apa, main demo. Ditanya, ditanya anak-anak demo, nggak ngerti. Mau demo apa, ya? Hmm. Kami dibayar Rp 200 ribu, gitu, kan. Tapi ada. Saya nggak mengerti,” katanya.
Pernyataan Presiden Prabowo tersebut turut disoroti oleh akademisi, hakim, dan politikus Mahfud MD. Menurutnya, jika memang benar, ia meminta Presiden Prabowo untuk membuka siapa saja pihak yang dituduhkan membayar massa untuk demo.
“Mestinya ya Pak Prabowo ungkapkan aja siapa sih yang dibayar, siapa yang membayar,” kata Mahfud, Kamis (25/6/2026).
Lebih lanjut, pihaknya juga menyayangkan soal pengakuan mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang menerima uang Rp20 juta terkait aksi beberapa waktu lalu. Pihaknya mengatakan bahwa praktik semacam itu memang bukan hal baru dalam dinamika gerakan mahasiswa.
Meski demikian, ia meyakini bahwa masih ada aksi mahasiswa yang dilakukan untuk tujuan jelas, yakni mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai kurang sesuai. Pasalnya, demonstrasi pada dasarnya bertujuan untuk menyampaikan aspirasi agar ada perbaikan ke depannya.
“Kayak mahasiswa kan jelas, ini salahnya di sini lho pemerintah disebut, pemerintahnya disebut, kebijakannya. Kalau hanya bilang mahasiswa dibayar, terus siapa yang mau diperbaiki di tengah kita? Kalau mahasiswa jelas kan kalau kritik pemerintah nyebut kasusnya, MBG, korupsinya sekian, ini sekian, ini ini, kan disebut, ini pelakunya, kan gitu, ini institusinya,” ungkapnya.
“Ya sangat menyedihkan ya kalau sampai mahasiswa mau dibayar untuk itu. Meskipun di setiap waktu itu selalu ada kelompok-kelompok kecil mahasiswa yang keluar dari arus utama perjuangan tuh sejak dulu ada,” katanya lagi. (*)











