Diduga Jadi Penyebab Kecelakan Jeju Air, Apa Itu Bird Strike?

Suryamedia.id – Pesawat Jeju Air Thailand-Korea Selatan mengalami ledakan setelah gagal mendarat di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan.

Dalam peristiwa tersebut, 179 orang dari 181 penumpang dikabarkan meninggal dunia. Sementara itu, korban selamat ada dua orang yang merupakan awak pesawat yang duduk di kursi paling belakang pesawat.

Analis penerbangan hingga aparat Korsel masih menunggu penyelidikan kotak hitam pesawat untuk memastikan penyebab kecelakaan. Namun, menurut sejumlah ahli, peristiwa tersebut diduga disebabkan oleh cuaca buruk dan bird strike yang membuat mesin pesawat tidak berfungsi.

Lantas, apa itu bird strike dan bahayanya dalam dunia penerbangan? Simak penjelasan lebih lengkap berikut ini!

Apa itu bird strike?

Bird strike merupakan insiden yang terjadi ketika pesawat yang sedang terbang menabrak seekor atau sekawanan burung. Walaupun terlihat sepele, insiden ini bisa mengganggu penerbangan, bahkan membahayakan keselamatan para penumpang.

Menurut Organisasi Penerbangan Siil Internasional (ICAO), bird strike bisa membuat jet atau mesin kehilangan daya saat terbang jika burung tersedot ke dalam saluran udara pesawat. Meski jarang terjadi, hal ini bahkan menyebabkan sejumlah kecelakaan fatal di seluruh dunia.

Baca Juga :   Apa Itu Sinkhole yang Terjadi di Seoul Korea Selatan?

“Kami sedang mempertimbangkan kemungkinan burung besar mengenai mesin, dan seperti yang kita ketahui, itu sangat jarang terjadi,” kata konsultan penerbangan Philip Butterworth-Hayes kepada AFP.

Salah satu insiden penerbangan akibat bird strike ini adalah insiden ‘Miracle on the Hudson’ yang terjadi tahun 2009. Saat itu, pesawat Airbus A320 milik US Airways terpaksa mendarat darurat di Sungai Hudson, New York setelah menabrak burung hingga kedua mesin pesawat rusak.

Sementara itu, jika bird strike benar-benar menjadi penyebab utama kecelakaan Jeju Air, maka kemungkinan burung menabrak dan mengenai titik vital pesawat. Apalagi, dengan adanya banyak korban yang meninggal.

“Butuh rangkaian peristiwa yang benar-benar katastropik untuk menyebabkan kehilangan nyawa sebesar ini. Sistem perlindungan dalam pesawat sangat tangguh,” kata Butterworth-Hayes. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *